Ini yang Harus Ada di Kemasan Produk Herbal

Ini yang Harus Ada di Kemasan Produk Herbal

Kemasan produk herbal dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan. Belakangan ini, faktor kemasan dapat menjadi gambaran ukuran bonafiditas suatu produk/perusahaan obat herbal.

Kemasan produk herbal sendiri bisa digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Primary packaging: kemasan yang bersentuhan langsung dengan produk.
  2. Secondary packaging: kemasan yang membungkus primary packaging. Ukuran secondary packaging ini lebih besar dari primary packaging.
  3. Tertiary packaging: kemasan yang berfungsi melindungi produk ketika proses distribusi.

Apakah Anda membuat produk herbal milik Anda sendiri?

Nah, perhatikan kemasan produk obat herbal yang sesuai dengan standar Badan POM untuk mempermudah Anda mendapatkan ijin edar.

Kemasan obat herbal memiliki aturan-aturan yang jelas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Desain kemasan obat yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan ini akan ditolak dengan mentah oleh BPOM, menjadikan produk tersebut tidak memiliki nomor registrasi dan menjadi ilegal bila diedarkan.

Aturan Desain Kemasan Produk Herbal BPOM

# Merk

Sebuah produk obat herbal harus memiliki merk / penamaan. Merk dengan menggunakan salah satu nama bahan baku produk tetap bisa didaftarkan ke BPOM. Namun akan menjadi masalah ketika merk tersebut akan dipatenkan ke Dirjen Haki, karena pematenan produk tidak boleh menggunakan suatu nama general, harus membuat nama/kata baru yang berbeda.

# Ilustrasi

Tambahkan ilustrasi sebagai pemanis. Umumnya BPOM mentolerir penggunaan ilustrasi seperti gambar tumbuhan dan simbol-simbol yang tidak dilarang (tetap berkaitan dengan khasiat produk herbal). Namun, BPOM tidak mentolerir ilustrasi dengan menggunakan gambar-gambar seperti : Bagian tubuh manusia, gambar virus / bakteri

# Khasiat

Untuk mempermudah konsumen melihat & memahami khasiat suatu produk herbal, kadang khasiat dicantumkan juga di bagian depan kemasan.

# Nomor Registrasi

Nomor registrasi / pendaftaran untuk jenis obat herbal terdiri dari 9 digit dan diawali dengan POM TR. Badan POM mengeluarkan 1 nomor registrasi untuk 1 item produk.

# Logo Obat Herbal / Jamu

Logo jamu harus dicantumkan! BPOM membuat aturan logo ini harus dicantumkan di bagian kiri atas. penggunaan warna logo juga tidak bisa dirubah, standard yang digunakan adalah warna hijau tua. BPOM memiliki buku panduan yang berisikan gambar logo boleh digunakan.
Obat herbal memiliki 3 tingkatan. Pertama adalah Jamu, kedua Obat Herbal Terstandar (OHT), ketiga Fitofarmaka. OHT dan Fitofarmaka memiliki logo yang berbeda dengan jamu. Kedua level ini adalah level lanjutan di mana suatu produk obat herbal harus memiliki kriteria-kriteria tertentu. Fitofarmaka memiliki khasiat yang telah teruji klinis dan bisa disejajarkan dengan obat farmasi.

# Produsen

Produsen obat herbal juga harus dicantumkan di suatu kemasan produk. Hal ini untuk memudahkan konsumen mengenali reputasi suatu perusahaan dalam memproduksi obat herbal dan mencari info mengenai produsen obat. Bagi produsen sendiri pencantuman ini penting untuk membangun citra perusahaan dan produknya.

# Komposisi Produk

Sebuah obat herbal mengandung 1 atau beberapa racikan bahan obat. Aturan penulisannya menggunakan nama latin bahan dan mencantumkan jumlah berat masing-masing bahan.

# Peringatan / Perhatian (optional dari BPOM)

Pencantuman peringatan / perhatian hanya perlu cicantumkan di beberapa jenis produk seperti produk penurun tekanan darah, pelangsing, diabetes, dan lainnya.

# Netto / Isi

Pencantuman netto diperlukan untuk memberikan info yang berkaitan dengan dosis pemakaian.

# Khasiat Produk (Inti)

Khasiat yang dicantumkan pada suatu kemasan obat herbal harus sama dengan sertifikat yang diberikan oleh BPOM. Khasiat tidak boleh dilebih-lebihkan/dramatis (contoh : menyembuhkan stroke).

Umumnya, BPOM menggunakan kalimat “membantu mengatasi…”, “secara tradisional digunakan untuk…”, dan lainnya. Bila ditemukan pencantuman khasiat yang berlebihan pada suatu merk obat tradisional, maka produk tersebut patut diselidiki.

# Cara Penyimpanan

Obat herbal memiliki standar tertentu dalam hal penyimpanan. Umumnya kalimat yang ditulis adalah, “simpan di tempat sejuk dan kering serta terhindar dari cahaya matahari langsung”. Hal ini bertujuan agar kandungan produk tidak mudah kadaluwarsa.

# Dosis

Seperti obat dokter, obat herbal juga memiliki aturan dosis yang dianjurkan. Dosis untuk pengobatan berbeda dengan pencegahan. Dosis yang berlebihan dalam mengkonsumsi obat herbal juga akan menimbulkan efek samping.

# Nomor Produksi & Expired Date

Pencantuman kode produksi diperlukan baik oleh produsen maupun konsumen guna mempermudah mengecek tanggal produksi, ataupun hal lain seperti pengajuan complaint dari konsumen atas ketidakpuasan isi produk.
Tanggal kadaluwarsa harus dicantumkan guna mempermudah konsumen dalam menentukan pilihan produk yang akan dikonsumsi.

# Logo Halal

Bagi beberapa produsen, logo halal berikut nomornya sangat dipentingkan. Sikap masyarakat Indonesia yang begitu mementingkan kehalalan suatu produk menjadikan logo halal penting untuk dicantumkan.

Bagi Anda yang tidak ingin repot memikirkan dan memproses perijinan yang panjang, Qolbi Herba Sejahtera menawarkan jasa Product Development/Pengembangan Produk melalui jasa maklon herbal untuk membantu Anda mengembangkan produk dengan merk sendiri (Private Label) sudah lengkap termasuk perijinan BPOM dan sertifikat Halal. Rangkaian lengkap produk herbal yang dibuat khusus untuk setiap tujuan bisnis atau pemasaran.

Produk Herbal Siap Jual à  Kami menawarkan produk herbal dan produk kecantikan dari Qolbi Herbs yang telah siap jual untuk segera dapat Anda pasarkan, karena semua tahapan dalam proses pengembangan produk telah kami lakukan untuk Anda.

Sumber : https://infobisnisukm.wordpress.com/2010/10/20/persyaratan-obat-tradisional-standar-bpom/